Sabtu, 30 Maret 2013

Islam di Sumatera



MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM
DI SUMATERA


  

BAB I
Indonesia adalah Negara yang dimana kebanyakan adalah orang yang menganut agama Islam, karena dalam agama ini tidak ada sistem kasta atau yang lainnya seperti dalam agama Hindu maupun agama Budha yang dimana agama itu sudah berkembang sebelum kedatangan agama Islam. Dalam agama Islam derajat seseorang itu sama, baik ia kaya atau miskin, yang menjadikan derajat orang itu tinggi adalah keimanan dan ketakwaan. Inilah yang menyebabkan kebanyakan orang memilih Islam sebagai agama yang patut untuk di ikuti atau di yakini.
Dalam agama Islam ini Allah telah berfirman kepada manusia agar ia saling menyampaikan agama Islam kepada orang lain, yang dimana Firman itu berbunyi “sampaikanlah ajaranku walau satu ayat”. Rasulullah SAW telah menyampaikan ajaran Allah kepada seluruh penduduk Makkah selama berpuluhan tahun dengan mendapatkan berbagai rintangan yang ia hadapi, sebenarnya masyarakat pada wakyu itu sudah yakin dengan agama Islam , tapi para bangsawan kaum quraisy membuanh jauh-jauh keyakinan itu, sebab dalam Islam ini tidak mengenal aakn system kasta atau perbedaan yang lain, jadi kaum bangsawan sulit untuk di ajak masuk Islam, dan dengan kesabaran dan  dan akhirya agama itu dapat di terima oleh orang-orang baik kaum bangsawan maupun rakyat jelata.Akhirnya agama Islam pun semakin berkembang. Dari sinilah akhirnya Islam dapat masuk dan berkembang di Indonesia ini.
Seiring dengan berkembangnya Islam ini para sejarawan melakukan berbagai penelitian tentang bagaimana cara masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia ini, yang kemudian adanya berbagai teori yang muncul dalam penelitian-penelitian yang di lakukan oleh para sejarawan.

1.      Bagaimana teori masuknya Islam di Indonesia?
2.      Bagaimana kondisi masyarakat masa kedatangan Islam
3.       Apa bukti bahwa Islam masuk di Sumatera?


1.      Unuk mengetahui  Apa saja teori masuknya Islam di Indonesia
2.      Untuk mengetahui bagaimana kondisi masyarakat pada masa kedatangan Islam
3.      Untuk mengetahui bukti bahwa Islam masuk di Sumatera






























            Berbagai teori tentang masuknyaIslam di Indonesia ini terus muncul sampai saat ini, Fokus ini mengenai tempat asal kedatangan Islam di Indonesia ini, siapa pembawanya, dan waktu kedatangannya.  Ada beberapa pendapat tentang masuknya Islam di Indonesia ini.
A.  Teori Makkah
Islam yang  masuk dan berkembang di Indonesia berasal dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke7 M. Teori ini dikemukakan oleh Hamka (Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah), ia adalah seorang ulama’ sekaligus seorang sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapat ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis perguruan tinggi Islam Negri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang di Indonesia ini tidak langsung dari Arab. Bahkan argumentasi yang dijadikan rujukan Hamka adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Selain itu yang tidak boleh diabaikan adalah fakta menarik lainnya adalah bahwa orang-orang Arab sudah berlayar mencapai  Cina pada abad ke-7 M dalam rangka berdagang. Hamka percaya dalam perjalanan inilah mereka singgah di kepulauan Nusantara saat itu (Budiyanto, 2012).
B.  Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia ini berasal dari Gujarat pada abad ke-13, Islam dibawa dan disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang singgah di kepulauan Nusantara. Mereka menempuh jalur perdagangan yang sudah terbentuk antara India dan Nusantara. Pendapat ini dkemukakan oleh Snouck Hurgronje. Ia mengambil pendapat ini dari Pijnapel, seorang pakar dari Universitas Leiden Belanda, yang sering meneliti artefak-artefak peninggalan di Indonesia. Pendapat Pijnapel ini juga dibenarkan oleh J.P Moquette yang pernah meneliti bentuk nisan kuburan-kuburan raja-raja pasai. Kuburan Sultan Malik Ash-Shalih. Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur juga ditelitinya. Dan ternyata sangat mirip dengan bentuk


nisan-nisan kuburan yang ada di Cambay, Gujarat. Rupanya pendapat ini disanggah oleh S.Q. Fatimi. Pendapat Fatimi ini adalah bahwa nisan-nisan kuburan yang ada di Aceh dan Gresik justru lebih mirip dengan nian-nisan kuburan yang ada di Benggala, sekitar Bangladhes sekarang (Mujahid, 2012).
C.  Teori Cina
Teori ini mengungkapkan tentang agama Islam yang disebarkandi Indonesia oleh orang-orang Cina. Mereka bermadhab Hanafi, pendapat ini disimpulkan oleh salah seorang pegawai Belanda pada masa pemerintahan kolonial Belanda dulu.  Hal ini diperkuat dengan berita Jepang (784 M), yang menceritakan tentang perjalanan berita Kashin. (Mujahid, 2012).
Teori ini beranggapan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa  Hindu Buddha etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia, terutama melalui kontak dagang. Bahkan ajaran Islam telah masuk ke Cina pada abad ke-7 M, masa dimana agama ini baru berkmbang (Budiyanto, 2012).
D. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia beasal dari daerah Persia atau Parsi (Iran). Pencetus dari teori inni adalah Hosein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hosein lebih menitik beratkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dsn Indonesia.  Tradisi tersebut antara lain : tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syi’ah atas kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslit melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari JawaTenggah dengan ajaran Sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhitan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan social. Alasan lain yang dikemukakan Hosein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan ini adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafi’i sama seperti kebanyakan muslim (Budiyanto, 2012).

Agama Islam telah masuk ke Indonesia semenjak abad pertama Hijriyah atau antara abad ke-7 dan 8 Masehi. Dimulai dari daerah pantai pesisir Sumatera, kemudian terbentuk kerajaan Islam untuk yang pertama kali di Aceh. Sebelum Islam masuk di Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan seperti Kerajaan Lamuri dan kerajaan lain yang disebutkan dalam sumber asing seperti Perlak dan Pasai. Pada masa kerajaan Lamuri telah tercipta hubungan yang baik dengan luar negri terutama Cina dan India. Ini memungkinkan karena letak Aceh yang strategis di jalan lintas perdagangan internasional (encik, 2012).
Kedatangan orang-orang Islam di Asia Tenggar mungkin belum terasa akibat-akibatnya bagi kerajaan-kerajaan di negeri-negeri tersebut. Karena usaha-usaha mereka itu baru pada taraf menjelajahi masalah-masalah di bidang pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 sampai anbad ke-12 di bidang ekonomi dan politik masih menunjukkan kemajuannya, sejak akhir abad ke-12 mulai menunjukkan kemundurannya yang prosesnya terbukti pada abad ke-13. Sejalan dengan kelemahan yang dialami kerajan Sriwijaya, pedagang –pedagang muslim yang mungkin disertai pula oleh mubaligh-mubalighnya lebih berkesempatan untuk mendapatkan keuntungan dagang dan keuntungan politik. Mereka menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul dan yang menyatakan dirinya sebagai sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samdra Pasai di pesisir timur laut Aceh (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:2-3).
            Munculnya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh akan budaya, dari kebudayaan orang yang membawa pengaruh Islam dengan Nusantara. Persentuhan hubungan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang Islam dengan orang-orang yang ada di Nusantara. Sebab, daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara dua negara, yaitu Laut Tengah dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan Arab, Parsi, India, dan Cina di Nusantara. Dengan kata lain, terjadilah proses akulturasi antara kebudayaan negara-negara itu dengan kebudayaan Nusantara (Husnayya, 2010)
            Pada masa kedatangan Islam di Indonesia terdapat aneka ragan suku bangsa, organisasi suku pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial-budaya. Suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, dilihat dari sudut antropologi budaya, belum banyak mengalami percampuranjenis-jenis bangsa dan budaya dari luar, seperti India, Persia, Arab, dan Eropa. Struktur ekonomi, sosial, dan budaya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir lebih-lebih di kota pelabuhan, menunjukan cirri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih berkembang yang disebabkan percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:14).
            Kita mengetahui bahwa dalam masa kedatangan da penyebaran Islam, di Indonesia terdapat Negara-negara yang bercorak Hindu, seperti di Sumatera yang terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tersebut tidak menunjukkan pengaruh India atau Indonesia Hindu, hal ini terlihat dari struktur birokrasi pemerintahan yang merupakan federasi limpo-limpo dibawah pimpinan Arungmatoa yang biasanya dipilih dari arung-arung, dan system pemerintahan yang mengenal unsure-unsur demokrasi (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:14).
Dari berita Tome Pire diketahui pula bahwa di daerah Sumatera di samping banyak kerajaan yang sudah bercorak Islam juga banyak yang belum memeluk Islam, dank arena itu sering kali disebut cafre. Struktur pemerintahan seperti telah diberitakan oleh Tome Pire situ diperkuat lagi oleh Antonio Galvao yang menyebut bahwa di Maluku, setiap tempat merdeka dengan daerah dan batas-batasnya sendiri.  Penduduknya hidup bersama  dalam masyarakat-masyarakat yang memenuhi keperluannya sendiri. Masyarakat-masyarakat tersebut diperintah oleh orang tua yang dianggap lebih baik dari pad yang lain (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:15).


Pada abad ke-12 situasi dan kondisi politik bahkan ekonomi kerajaan-kerajaan Indonesia-Hindu pada masa kedatangaan orang-orang muslim ke daerah Sumatera dan Jawa, Sriwijaya dan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan karena politik kerajaan-kerajaan di Sumatera dan Jawa sendiri dan mungkin juga oleh pengaruh politik perluasan kekuasaan Cina ke kerajaan-kerajaan di daratan Asia Tenggara (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:19).
Kemunduran Sriwijaya ini disebabkan karena faktor politik ekskapansi dari kerajaan Singhasari dan Majapahit, dasamping kemungkinan perluasan pengaruh Cina dan kerajaan-kerajaan di daratan Asia Tenggara. Untuk Majapahit faktor politik dalam negri sendiri, yaitu pemberontakan-pemberontakan dan sengketa diantar anggota keluarga raja dalam perebutan kekuasaan. Adanya pmberontakan, perang perebutan kekuasaan di kalangan keluarga raja-raja itu mengakibatkan pula kelemahan bagi perekonomian rakyat, bahkan juga perekonomian segolongan bangsawan sendiri tidak  terlibat dalam perebutan kekuasaan itu, karena perang-perang itu jelas menghabiskan waktu, tenaga, dan bahkan keperluan-keperluan hidup. Bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa melepaskan diri bukan karena factor politik saja, melainkan juga factor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang muslim (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:19).
Sementar itu, dalam suasana politik yang kacau, banyak pedagang muslim yang mengunjungi Nusantara, diantaranya mungkin juga terdapat mubaligh-mubaligh. Mereka juga berdiam dalam perkampungan-perkampungan. Sudah tentu diantara mereka terdapat pula orang kaya, dan orang muslim tersebut menerima dan memakai bahasa penduduk setempat yang mereka Islamkan. Mereka mencari budak-budak untuk mereka Islamkan, dengan cara ini mereka mencari tiap keluarga muslaim menjadi inti masyarakat muslim dan pusat kegiatan peng-Islaman. Dengan cara perkawinan pula Islam memasuki lapisan masyarakat bangsawan (Poesponegoro & Notosusanto, 2010:19).



            Sejak abad ke-7 M, kawasan Asia tenggara mulai berkenalan dengan tradisi Islam. Ini terjadi karena para pedagang muslim, yang berlayar di kawasan ini, singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih intensif, khususnya di semenanjung Melayu dan nusantara. Di Indonesia, kehadiran Islam secara lebih nyata terjadi sekitar akhir abad 13 M, yakni dengan adanya makam Sultan Malik al-Saleh, terletak di kecamatan Samudra di Aceh utara. Pada makam tersebut tertulis bahwa dia wafat pada Ramadhan 696 H/1297 M. Dalam hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu Malik, dua teks Melayu tertua Malik Al-Saleh digambarkan sebagai penguasa pertama Kerajaan Samudra Pasai (Hill, 1960; Ibrahim Alfian, 1973, dalam artikelAmbary).
            Untuk menjastifikasi teorinya, Moquette membandingkan dengan data historis yang lain, yaitu catatan Marco Polo yang mengunjungi Perlak dan tempat lain di wilayah ini pada 1292 M. Pada proses islamisasi terjadi, persentuhan pedagang muslim dengan penduduk setempat telah terjadi di sana untuk sekian lama hingga sebuah kerajaan Muslim berdiri pada abad ke-13 M, Samudra pasai. Pendiri kerajaan tersebut bias dihubungkan dengan kelemahan kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-12 dan ke-13 M sebagaimana dituturkan oleh Chou-Chu-Fei dalam catatan Ling Wa-Tai-ta (1178 M) (Tjandrasasmmita, 13-14). 
            Berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M merupakan bukti masuknya Islam di Sumatera, selain kerajaan Samudra Pasai juga ada kerajaan  Perlak, dan kerajaan Aceh. pada tahun 1978, peneliti Pusat Riset Arkeologi Nasional Indonesia telah menemukan sejumlah batu Nisan di situs Tuanku Batu Badan di Barus. Yang terpenting dari temuan itu adalah makam yang mencantumkan sebuah nama, yaitu Tuhar Amsuri, yang meninggal pada 19 Safar 602 H, sebagaimana ditafsirkan oleh Ahmad Cholid Sodrie dari pusat Riset Arjeologi Nasional, tapi ada penafsiran lain yang mengemukakan bahwa Tuhar Amsuri meninggal pada 19 Safar 972. Tapi dari temuan Arkeologis di barus dikatakan bahwa batu nisan Tuhar Amsuri tertanggal 602 lebih awal dari batu nisan Sultan As-Salih yang tertanggal 696 H. Ini berarti jauh sebelum kerajaan Samudra Pasai, sudah ada masyarakat Muslim yang tinggal di Barus, salah satu tempat di sekitar pantai barat Sumatera (Tjandrasasmmita,15-16).

makam dibuka oleh jurukunci yang telah selesai menunaikan solat Jumaat. Papan info tertera keterangan tentang Sultan Malik As Salih berada di dalam kawasan kompleks makam.( http://jejakmihrabmimbar.com/kompleks-makam/3944/)

Gambar 2.3.2
Makam di Barus (http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/06/06/lmbufa-nasib-nelangsa-kota-baru-kota-tempat-masuknya-islam-ke-indonesia)


BAB III

Berbagai teori tentang masuknyaIslam di Indonesia ini terus muncul sampai saat ini, Fokus ini mengenai tempat asal kedatangan Islam di Indonesia ini, siapa pembawanya, dan waktu kedatangannya.  Ada beberapa pendapat tentang masuknya Islam di Indonesia ini. Ada teori Makkah, teori Gujarat, teori Cina, dan teori Persia.
Pada abad ke-12 situasi dan kondisi politik bahkan ekonomi kerajaan-kerajaan Indonesia-Hindu pada masa kedatangaan orang-orang muslim ke daerah Sumatera dan Jawa, Sriwijaya dan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Dan pada waktu Srwijaya memgalami kemunduran inilah terjadi perluasan Islam di Sumatera.
Kehadiran Islam secara lebih nyata terjadi sekitar akhir abad 13 M, yakni dengan adanya makam Sultan Malik al-Saleh, terletak di kecamatan Samudra di Aceh utara. Pada makam tersebut tertulis bahwa dia wafat pada Ramadhan 696 H/1297 M. Ia digambarkan sebagai penguasa pertama Kerajaan Samudra Pasai.


















Ambary. 1998. Menemukan Peradaban : Arkeologi dan Islam di Indonesia. PusitArkenas.

Budiyanto, 2012. Teori-teori Masuknya Islam ke Indonesia (Online), (http://budisma.web.id/materi/sma/sejarah-kelas-xi/teori-masuknya-islam/), diakses 14 Februari 2013.
Encik. 2012. Masuknya Islam di Sumatera (Online) (http://id.shyoong.com/humanites/religion-studies/2277838-masuknya-Islam-di-Sumatera/#ixzz2J01JVC6d) diakses 30 Janiuri 2013.

Husnayya. 2010. Bab Iii Pengaruh Islam (Pengantar) (Online), (file:///D:/setelah-mempelajari-bab-ini-kamu.html). Diakses  14 Februari 2013

Mujahid. 2012. Menyelisik Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia (Online), (file:///D:/%28BAGUS%29%20TEORI,%20MAKALAH,%20BUKTI%20&%20SEJARAH%20PROSES%20MASUKNYA%20ISLAM%20KE%20NUSANTARA%20INDONESIA%20%20%20Benarkah%20Islam%20dibawa%20pedagang%20Gujarat_Arab%20%20%C2%AB%20%D8%B7%D8%A8%D9%8A%D8%A8%20%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%A8%20%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A%20_%20Dokter%20Pengobatan%20Nabawi%20_.htm), diakses 14 Februari 2013.

Poesponegoro, M.D. & Notosusanto, N. 2010. Sejarah Nasional Indonesia III (Edisi Pemutakhiran). Jakarta: Balai Pustaka.
Tjandrasasmmita. Tanpa Tahun. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta:KPG (Kepustakaan Popolel Gramedia).



 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar